10 Kelebihan Sistem Pendidikan Jepang

Jepang merupakan salah satu negara maju. Indikator tersebut tidak hanya dari kondisi ekonomi namun juga sistem pendidikan yang melahirkan individu dengan kualitas yang unggul. Tak hanya itu, Jepang terkenal dengan budaya dan orang-orang yang pintar, sehat, santun dan juga bijak. Hal tersebut adalah hasil dari sistem pendidikan Jepang yang sukses dalam mendidik siswa-siswinya. Terdapat 10 kelebihan utama dari sistem pendidikan di Jepang yang unik dan berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia.

1. Norma Lebih Utama Dari Pengetahuan

Di sekolah dasar Jepang, murid-murid tidak mendapatkan ujian hingga kelas 4. Ujian yang mereka terima hanya ujian sederhana dan bukan penentu utama perkembangan akademis mereka. Sistem pendidikan Jepang menekankan bahwa 3 tahun pertama pada pendidikan dasar yang paling utama adalah mengembangkan norma dan karakter mereka, bukan menilai dari kemampuan mereka untuk belajar atau tingkat pemahaman mereka tentang pelajaran.

Siswa-siswa SD akan diajarkan nilai-nilai kehidupan dasar yang penting seperti hormat kepada orang lain dan lemah lembut terhadap hewan dan menghargai alam. Selain itu mereka akan diajari bagaimana menjadi pribadi yang bijaksana, penuh kasih sayang, dan memiliki empati. Tidak hanya itu, mereka juga akan diajar bagaimana memiliki sikap berani, mengontrol diri dan bersikap adil.

2. Musim Masuk Sekolah Pada 1 April

Musim masuk sekolah di Jepang berawal pada tanggal 1 April. Ada beberapa alasan mengapa tanggal tersebut dipilih sebagai tanggal pertama masuk sekolah. Yang pertama bulan April merupakan musim bunga sakura yang sedang mekar. Oleh karena itu para murid-murid akan menyaksikan pemandangan indah selama di Jalan ketika masuk sekolah. Hal ini dapat memberikan efek senang ketika ada tekanan untuk mengawali musim belajar mengajar.

Kegiatan akademik di Jepang dibagi dalam 3 trmester atau caturwulan yaitu 1 April – 20 July, 1 September – 26 Desember, dan 7 Januari – 25 Maret. Hasilnya lebih banyak hari libur yaitu 6 minggu pada musim panas dan 2 minggu pada musim dingin dan musim semi.

3. Tidak Ada Petugas Kebersihan di Sekolah

Sebagian besar sekolah di Jepang tidak memperkejakan petugas kebersihan. Hampir mirip seperti di Indonesia, para siswa ditugaskan untuk membersihkan bukan hanya kelas namun seluruh sekolah. dari mulai kelas, lorong kelas, hingga toilet sekolah. Seluruh tingkat dan kelas memiliki bagian dan tugas untuk membersihkan bagian sekolahan, dimana setiap tahun pembagian tugasnya selalu bergantian. Dengan sistem ini diharapkan para siswa untuk berlatih bekerja sama dan saling tolong menolong. Selain itu tentunya akan menghargai kebersihan sekolah, karena kondisi kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama.

4. Makan Siang Yang Sama dan Bersama

Sistem pendidikan di Jepang selalu berusaha untuk memberikan gizi yang seimbang bagi para murid. Pada tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah negeri, makan siang bagi para siswa di siapkan berdasarkan standar yang ditentukan oleh koki dan ahli gizi profesional. Meskipun masakan sudah disediakan, mereka bertugas untuk mendistribusikan sendiri ke masing-masing kelas. Kemudian setelah semua sudah mendapatkan porsi, termasuk yang bertugas membagikan makanan, mereka akan makan bersama di kelas masing-masing. Setelah makan, setiap siswa harus membersihkan peralatan makan masing-masing.  Hal ini dapat membangun hubungan positif antar siswa dan dengan guru.

5. Bimbingan Belajar Sangat Diminat

Budaya belajar sudah ditanamkan sejak masih kecil. Anak-anak SD di jepang sudah mengikuti kegiatan bimbingan belajar yang biasanya dilakukan di malam hari. Oleh karena itu tak jarang banyak anak-anak yang pulang malam setelah mengikuti bimbingan belajar. Hasilnya, murid-murid di Jepang sangat jarang mengulang kelas.

6. Mata Pelajaran Tradisional

Sebagai negara maju, Jepang terkenal dengan bagaimana mereka menjaga kebudayaan mereka. Meskipun dikategorikan sebagai negara maju, tidak banyak dari mereka yang menguasai bahasa Inggris karena mereka lebih bangga dengan bahasa sendiri. Hal ini adalah wujud dari kebanggaan budaya mereka sendiri dari pada mengikuti trend populer dari negara barat. Untuk memperoleh hal tersebut, para siswa mendapatkan pelajaran tradisional jepang termasuk kaligrafi dan kesusastraan Jepang.

7. Penggunaan Seragam Untuk Tingkat Menengah dan Atas

Penggunaan seragam di sistem pendidikan sangat unik. Pada tingkat sekolah dasar, para siswa dasar tidak menggunakan seragam. Hal ini untuk memberikan kenyamanan pada anak-anak selama berada di sekolah. Akan tetapi ketika masuk ke tingkat menengah dan atas, mereka akan menggunakan seragam. Penggunaan seragam ini untuk menghindari ketimpangan sosial diantara siswa-siswa serta agar mereka lebih meningkatkan rasa sosial antar siswa.

8. Tingkat Kehadiran Siswa 99%

Secara statistik, siswa di Jepang memiliki tingkat kehadiran yang sangat tinggi yaitu 99%. Sangat jarang siswa di Jepang untuk bolos sekolah. Jangankan untuk bolos, siswa yang tidak memperhatikan guru saat proses belajar mengajar sangat jarang ditemukan.

9. Ujian Akhir Penentu Masa Depan

Jika di Indonesia menganggap bahwa UAN tidak adil bagi para siswa, berbeda dengan Jepang. Sampai sekarang sistem pendidikan Jepang masih menerapkan ujian akhir nasional. Pada akhir masa sekolah tingkat atas, seluruh siswa harus mengikuti ujian penting yang menentukan masa depan mereka. Nilai dari ujian akhir ini digunakan tidak hanya sebagai kelulusan namun juga syarat untuk masuk ke perguruan tinggi. Saking ketatnya ujian ini, para siswa sma kelas 3 benar-benar mempersiapkannya dengan matang. Dari data statistik hanya 76% lulusan SMA yang dapat melanjutkan ke tingkat lebih tinggi setelah ujian tersebut. Karena saking sulitnya, ujian tersebut mendapat istilah “examination hell’ atau ujian neraka.

10. Kuliah Adalah Masa Terindah

Beban pendidikan di Jepang yang terberat adalah saat SMA. Nilai akhir saat SMA sangat menentukan masa depan seorang siswa. Oleh karena itu bagi mereka yang berhasil masuk perguruan tinggi merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Sebelum masuk ke dunia kerja yang sangat ketat di Jepang, para mahasiswa benar-benar menikmati masa-masa selama kuliah. Karena kondisi itu masa ketika kuliah sering disebut sebagai liburan hidup.